Jum’at malam 9 JumadalUula 1441 bertepatan dengan 3 Januari 2020 Pondok Pesantren Matholiul Huda Al Kautsar kerawuhan tamu spesial. Beliau adalah Al habib Sholeh bin Yahya dari Tarim Hadramaut Yaman. Kunjungan ini tidak diduga sebelumnya oleh para Santri. Setelah jam makan malam, sekitar jam 20.00 WIB, tiba-tiba Ketua Umum Pondok Ustadz Ahmad Fanani memberikan instruksi kepada seluruh santri putra untuk segera menuju Masjid Ummul Quro. Dengan patuh merekapun segera menuju masjid yang menjadi pusat kegiatan sehari-hari Pondok Al kautsar itu, meski masih diliputi rasa penasaran; Ada apa gerangan mereka tiba-tiba diminta berkumpul di Masjid?.

Setelah semua Santri berkumpul dan semua persiapan dirasa cukup, kira-kira pukul 21.00 WIB Abah KH. Ahmad Zacky Fu’ad Abdillah bersama para tamu memasuki Masjid. Diantara barisan tamu ada Habib Rasyid Ridho Tayu dan Habib Sholeh bin Yahya beserta rombongan.

Acara dibuka dan dibawakan oleh al Ustadz H. Ni’am Sutaman, LLM. Mula-mula Beliau memperkenalkan profil singkat dari Habib Sholeh bin Yahya untuk kemudian dengan hormat mempersilahkan Beliau menyampaikan taushiyah dan do’a.

Diantara isi taushiyah Beliau:

Bahwa ni’mat terbesar yang diberikan ALLAH kepada hambanya adalah Agama Islam. Beruntunglah orang-orang yang diberikan hidayah oleh ALLAH memeluk Agama Islam. Kemudian Beliau al Habib menjelaskan Agama Islam itu adalah agama yang berdasarkan ilmu dan amal. Setidaknya ada 3 unsur dalam Agama Islam yaitu aqidah, syari’at, dan hakikat (tasawuf). Jadi untuk menjadi penganut Agama Islam yang paripurna ketiganya harus diamalkan. Nah, untuk mengamalkan unsur-unsur tersebut diperlukan pengetahuan atau ilmu. Maka mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Agama Islam sebenarnya adalah wujud syukur diberi ni’mat berupa Agama Islam.

Selanjutnya al Habib menguraikan Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Sahabat Muawiyyah ra. Yaitu:

من يرد الله به خيرا يفقهه فى الدين

Bahwa orang yang dikehendaki ALLAH menjadi baik maka ALLAH akan memberikan kefahaman (ilmu) agama. Beliau membalik pemahaman Hadits ini dengan menyatakan: “Artinya orang yang tidak dikehendaki menjadi baik oleh ALLAH maka akan dibiarkan dalam kebodohan dan tidak diberikan ilmu agama.” Wal ‘iyadz billah. Hadits ini juga memberikan pengertian: para Santri,Pelajar, dan Pegiat ilmu agama termasuk orang yang dikehendaki ALLAH menjadi baik, karena mereka berproses menuju pemahaman terhadap ilmu agama. Dan ini juga merupakan ni’mat dari ALLAH.

al Habib juga mengutip Hadits lain yang menunjukkan keutamaan penuntut ilmu agama yakni:

ان الملائكة لتضع اجنحتها لطالب العلم رضا بما يسمع

Bahwasannya Malaikat merendahkan sayap-sayapnya bagi para Penuntut ilmu karena senang dengan aktivitas mereka.

Beliau sempat menganalogikan dengan seseorang yang berjalan diatas karpet merah (seperti nominator piala Oscar)betapa bangga dan senangya perasaan mereka, lalu bagamana perasaan seseorang yang dapat berjalan diatas sayap-sayap malaikat?

Keutamaan majlis ilmu juga tidak luput dari bahasan. Al Habib mengungkapkan, menghadiri satu majlis ilmu dapat menghapus keburukan-keburukan 70 perkumpulan yang sia-sia.  Persis seperti yang dikatakan Syaikh Atho’ bin Abi robah ra.:

حضور مجلس العلم يكفر سبعين مجلسا من مجالس اللغو واللعب

MENGATASI KEMALASAN

Lalu bagaimana mengatasi rasa malas yang kadang bahkan seringkali mengganggu saat mencari ilmu?

“Dengan mengingat keutamaan-keutamaan yang akan disandang oleh para Penuntut ilmu seperti yang telah disebutkan di atas”;jelas Beliau. Syaithan akan selalu menggoda orang yang menuju kebaikan, termasuk Santri. Syaithan tidak akan mengganggu orang-orang yang berada dalam keburukan.

Beliau juga menekankan untuk mengamalkan ilmu yang telah didapatkan sedikit demi sedikit.

Terakhir Beliau berharap apa yang disampaikan dapat dipraktekkan oleh para Santri sehingga mereka termasuk orang-orang yang diberi kabar gembira, seperti yang disinggung dalam Al Qur’an surat az zumar :

فبشر عباد (17)الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه

Taushiyah malam itu ditutup dengan doa dan mushofahah. Dengan khidmat para Santri mengecup tangan mulia dari al Habib sebagai bentuk penghormatan sekaligus ngalap barokah kepada dzurriyyat ar rasul dan ahlul ilmi.

Setelah selesai para Santri kembali ke kamar masing- masing untuk mengikuti absenan rutin jam malam. Rintik hujan yang kembali menetes malam itu  seakan memberi gambaran hati mereka yang kembali dibasahi dengan ilmu dan hikmah sebagai oleh-oleh dari Bumi Sejuta Wali, Tarim.

Disusun oleh Wafi Ahda