Dalam acara Sosisalisasi Mahad Aly fi Uluumil Qur’an dan Pendidikan Diniyah Formal Tahfidz Pesantren Mathali’ul Huda Al-Kautsar (22/9/2018) K.H Ahmad Zacky Fuad Abdillah menyampaikan bahwa santri tahfidz harus bisa baca kitab kuning dan menguasi ilmu-ilmu al-Qur’an, sehingga tidak hanya hafal saja. Karena alasan itulah Pesantren Mathali’ul Huda ALKautsar mulai tahun ajaran 2018-2019/1439-1440 ini mulai membuka program Pendidikan Diniyah Formal Tahfidz dengan harapan nantinya santri-santri yang menghafal al-Qur’a juga dibekali kemampuan membaca kitab kuning dan ilmu-ilmu pendukung al-Qur’an. PDF Tahfidz ini juga memberikan jaminan kepada santri yang menyelesaikan studinya dengan dibekali ijazah formal dari Kementerian Agama RI.

Sementara itu untuk santri-santri tahfidz yang telah menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas, disiapkan Ma’had Aly fi Uluumil Qur’an, sehingga santri-santri yang telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an dan ingin melancarkan hafalannya di pesantren bisa sambil kuliah formal di bidang al-Qu’an dan ilmu-ilmu al-Quran.

Untuk program PDF, telah dibuka PDF Ula Tahfidz dengan jenjang 6 tahun untuk tingkat dasar, PDF Wustho Tahfidz dengan jenjang 3 tahun untuk tingkat menengah pertama dan PDF Ulya Tahfidz dengan jenjang 3 tahun untuk tingkat menengah atas.

Abah Ahmad Zaki Fuad Abdillah dalam sambutan beliau di hadapan para walisantri dalam rangka paparan sosialisasi Pendidikan Diniyah Formal menegaskan, bahwa Pesantren Salaf harus berbenah dari gempuran kemajuan zaman. Berkali-kali beliau menegaskan tentang pentingnya

المحافظة على القديم الصالح والأخذ باالجديد أصلح..
Apa yang kita hadapi saat ini adalah ketika kebebasan sudah melebihi batas etika, orang bebas melakukan apapun sebebas-bebasnya, sehingga harus diperteguh kembali sifat-sifat nabi yaitu: siddiq, amanah, tabligh, fathonah

Ketika ilmu banyak dijual untuk uang, maka pesantren perlu berbenah untuk tetap ‘dandani’ kondisi yg seperti demikian. Maksud ‘kawula’ modalipun ampun Quran sarasan tapi nggih saged mulang kitab. (Maksud saya, memperbaiki kondisi yang demikian tidak cukup hanya dengan Al-Qur’an saja, tetapi setidaknya santri-santri tahafudz ini juga mampu mengajar kitab)

Beliau menceritakan jika pernah ‘dingendikani’ Mbah Maimun Zubair ‘pondok Qur’an isone khataman bloko tapi ra ngerti artine iku koyo moco koran.’ (Pondok Qur’an kebanyakan bisanya cuma khataman saja tapi tidak memahami maknanya, itu sama saja seperti membaca koran). Kata-kata inilah yang menjadi pendorong supaya generasi Qur’an diharapkan bisa ‘iqro’ lebih mendalami Al Qur’an, sehingga doktrin

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد أصلح

Dapat dilaksanakan dengan maksimal.

KH AHmad Zacky Fuad memohon doa restu dan dukungan dari para wali santri tahfidz agar program-program pendidikan tersebut nantinya bermanfaat dan mendatangan barokah, khususnya bagi pra santri.

Dalam Acara tersebut juga dipaparkan sekilas tentang PDF dan Ma’had Aly yang disampaikan oleh Mudir Am PDF dan Ma’had Alu Ustadz Muhammad Niam Stutaman, LLM yang didampingi Ustadz Santoso, Lc, Msy.